Translator

Pages

# Penerus Bangsa Afghanistan Korban Pemerintah Lalai

Penerus Bangsa Afghanistan Korban Pemerintah Lalai 

Nations have recently been led to borrow billions for war; no nation has ever borrowed largely for education.  Probably, no nation is rich enough to pay for both war and civilization.  We must make our choice; we cannot have both.
-Abraham Flexner-

sumber gambar : www.google.com
Afghanistan merupakan negara yang cukup berbahaya untuk dikunjungi karena masih mengalami konflik perang dengan Amerika Serikat. Peperangan yang bermula pada tahun 2001 ini masih dengan lancar berjalan dengan baik, walaupun dampak yang ditimbulkan menghancurkan negara itu sendiri dari segala aspek kehidupan, terutama aspek sosial. Ratusan ribu nyawa telah melayang dengan sia – sia akibat perang yang tiada henti yang terjadi antara Afghanistan dan Amerika Serikat.

Seperti yang kita ketahui bersama, tingkat konflik dan kekerasan di Afganistan memang tinggi dan sangat berbahaya. Konflik antara Taliban dan tentara Amerika Serikat masih berlangsung hingga sekarang dan bom – bom bunuh diri dengan jelas menentukan bahwa negara Afghanistan ini semakin lama akan terpuruk karena ulah mereka sendiri. Aspek sosial seperti lingkungan masyarakat menjadi terkecam dan terkekang secara nyata akibat peperangan yang sia – sia.

Membaca salah satu berita dari situs yang sering saya kunjungi yaitu http://www.voaindonesia.com yang beritanya berisi tentang Taliban Afghanistan  Tutup 50 Sekolah. Hati saya teriris dengan sedih mendengar berita yang kejam ini. Hak untuk mendapatkan pendidikan bagi siswa – siswi Afghanistan ditindas oleh Taliban hanya karena kelalaian mereka yang tidak bisa menciptakan kondisi yang kondusif dalam negaranya sendiri. Konflik perang yang ditimbulkan oleh pemerintah Afghanistan dan Taliban berdampak buruk kepada generasi penerus bangsa Afghanistan. Padahal generasi penerus suatu bangsa merupakan acuan dasar pembentukan negara yang berkualitas di kancah internasional.
sumber gambar : www.google.com
Berdasarkan data yang saya baca di situs wikipedia.com mengungkapkan dengan jelas dampak buruk dari konflik di Afghanistan. Di musim semi 2003, diperkirakan bahwa 30% dari 7.000 sekolah Afganistan telah rusak parah selama lebih dari 2 dasawarsa pendudukan Uni Soviet, perang saudara dan penguasaan Taliban. Hanya setengah dari sekolah itu dilaporkan memiliki air bersih, dengan kurang dari 40% yang diperkirakan memiliki sanitasi yang cukup. Pendidikan untuk anak lelaki bukanlah prioritas selama masa Taliban, dan anak perempuan dibuang dari sekolah.

Berkenaan dengan kemiskinan dan kekerasan di sekeliling mereka, studi pada 2002 oleh kelompok pembantu Save the Children mengatakan anak Afganistan ulet dan berani. Studi itu memuji kuatnya institusi keluarga dan lingkungan. Sampai 4 juta anak Afganistan, kemungkinan jumlah terbesar, dipercaya telah telah mendaftar untuk kelas untuk tahun-tahun sekolah yang mulai pada Maret 2003. Tingkat melek huruf keseluruhan penduduk diperkirakan 36%.

Fakta yang telah berbicara memberikan arti penting kepada Afghanistan untuk segeraa memulihkan dirinya sendiri. Berdasarkan fakta tersebut seharusnya Afghanistan harus bisa menjadi negara yang melindungi segenap tumpah darah rakyatnya dalam menerima pendidikan, sosial, ekonomi, dan politik yang benar dan tepat. Bukan rakyat yang seharusnya dijadikan korban dari kegagalan pemerintah Afghanistan dalam  menumpas pelaku konflik, sehingga menyebabkan generasi penerusnya tidak bisa menerima pendidikan dengan layak, sebagaiman layaknya anak – anak di dunia ini dapat merasakan pendidikan yang baik.
sumber gambar : www.google.com
Berita yang telah disampaikan media – media dunia seharusnya menjadi lecutan keras ke muka pemerintah Afghanistan yang saat ini belum bisa menyediakan hak – hak pendidikan kepada generasi penerusnya. Generasi penerus Afghanistan hanya menangis akibat konflik dengan Taliban dan perang dengan Amerika Serikat. Sebaiknya pemerintah Afghanistan wajib dan bijaksana dalam menyikapi hal ini, bukannya hanya berpangku tangan menunggu bantuan internasional. Tindakan tegas harus dilakukan pemerintah Afghanistan dan harus diterapkan dengan baik supaya seluruh lapisan masyarakat Afghanistan bisa mendapatkan kehidupan yang layak.

sumber gambar : www.google.com


Berdasarkan berita http://www.voaindonesia.com tentang Taliban Afghanistan Menutup 50 Sekolah menjadi titik nadi betapa hancurnya pendidikan anak – anak di Afghanistan saat ini. Mereka yang tidak bersalah dan tidak tahu apa – apa menjadi korban keji yang tidak bisa mendapatkan hak mereka dengan baik. Konflik luar dan dalam menyerang Afghanistan. Taliban bergerak seolah – olah sebagai penguasa Afghanistan dan Amerika Serikat seolah – olah sebagai penjajah Afghanistan dan Afghanistan sendiri seolah – olah seperti bola yang sedang dipermainkan. Tidak ada tindakan tegas dan keseriusan pemerintah Afghanistan dalam menyelesaikan koflik tahunan ini. Padahal pemerintah dalam suatu negara merupakan penguasa yang harus bersikap lebih dalam mengatur negaranya, dan bukan negara lain ataupun organisasi lain.

Aspek pendidikan seolah ditiadakan di negara Afghanistan. Anak – anak direkrut oleh Taliban dan dijadikan budak senjata dalam berperang di tanah negerinya sendiri. Mata internasional sudah berusaha mendamaikan negeri ini tetapi usaha keseriusan dari pemerintah Afghanistan hanya bualan belaka yang menipu rakyatnya sendiri. Janji dan bukti serta tulisan perjanjian sudah dilakukan tetapi konflik ini selalu berlanjut sampai detik ini.

Anak – anak yang seharusnya menerima pendidikan harus lebih diutamakan di seluruh negara, karena mereka merupakan aset penting suatu negara. Merekalah yang akan membawa negara ini ke suatu arah berdasarkan pendidikan yang diterima oleh generasi bangsa tersebut. Jika mereka tidak menerima pendidikan itu dengan baik maka secara pasti suatu negara tersebut akan hancur dengan sendirinya karena tidak ada tonggak besar yang menopang negeri tersebut. Ratusan anak – anak Afghanistan yang seharusnya menerima pendidikan malah menerima pelecehan hak asasi manusia dan malah menerima penistaan dari negaranya sendiri.

Seperti yang kita ketahui bersama, latar belakang pendidikan suatu bangsa merupakan aspek penentu keberhasilan dan kemajuan bangsa tersebut. Lihat negara Amerika Serikat, Inggris, Jepang dan negara maju lainnya yang mengutamakan pendidikan untuk generasi penerusnya. Lihatlah kenyataan sekarang, kemajuan bangsa Eropa dan Amerika tidak terlepas dari penerimaan pendidikan generasi penerusnya, sehingga negara tersebut menjadi titik acuan keberhasilan suatu pendidikan di seluruh dunia.

Betapa pilunya saya mendengar bahwa sekolah sebagai tempat mendidik generasi penerus ditutup oleh pemberontak di Afghanistan. Anak – anak yang seharusnya memegang pena untuk menuliskan dan prestasi malah memegang senjata yang menghancurkan negerinya sendiri. Tindakan pemerintah Afghanistan dalam mendidik generasi penerusnya seolah tunduk atas nama anak yang memegang senjata. Bukti ketakutan pemerintah Afghanistan secara jelas terkuak dengan tidak selesainya konflik ini sampai detik ini. Jika anak – anak Afghanistan tidak mendapatkan pendidikan layak yang seharusnya mereka dapatkan, akan membuat mereka secara otomatis membenci negaranya sendiri dan tak peduli masuk dalam golongan pemberontak. Sehingga, generasi penerus Afghanistan hanya akan merusak negaranya sendiri ke arah yang lebih keji.
sumber gambar : www.google.com

 Hal yang membuat Afghanistan belum bisa menyelesaikan konflik disebabkan karena Afghanistan sendiri yang belum bisa memenuhi hak – hak yang seharusnya diterima oleh rakyatnya. Pemberontakan, pembunuhan, pemboman dan penistaan hak sosial menjadi biasa di negeri ini. Pendidikan seharusnya menyadarkan pemerintah Afganistan bahwa dengan pendidikan generasi penerus mereka bisa menciptakan negara Afghanistan yang lebih baik di masa depan. Pemerintah harus tegas menghukum dan menindaklanjuti pemberontak yang menghancurkan pendidikan di Afghanistan dan malah sewenang – wenang menutup pendidikan anak – anak Afghanistan. Afghanistan seharusnya berkaca ke dunia sekarang untuk menciptakan negaranya yang aman dan membuat rakyat layak menerima haknya dengan baik. Anak - anak Afghanistan seharusnya diperlakukan lebih baik oleh pemerintah Afghanistan karena merekalah yang akan memegang tanggung jawab besar di masa depan negara Afghanistan.

Every time you stop a school, you will have to build a jail.  What you gain at one end you lose at the other.  It's like feeding a dog on his own tail.  It won't fatten the dog. 
-Mark Twain-

# Perdamaian, Langkah Nyata Yang Masih Berjalan atau Akan Dihentikan ?


Perdamaian, Langkah Nyata Yang Masih Berjalan atau Akan Dihentikan ?


The real differences around the world today are not between Jews and Arabs; Protestants and Catholics; Muslims, Croats, and Serbs.  The real differences are between those who embrace peace and those who would destroy it; between those who look to the future and those who cling to the past; between those who open their arms and those who are determined to clench their fists. 
- William J. Clinton, 1997-


sumber gambar : www.google.com
Rintihan tangis masih mewarnai di setiap belahan bumi . Tiap tetes air mata membuktikan bahwa kesedihan masih terus berjalan hingga sekarang. Perbedaan selalu menjadi aspek penting terjadinya sebuah konflik sosial di masyarakat. Tak peduli di negara maju ataupun di negara berkembang, siksaan status sosial masih berlanjut sampai sekarang, walaupun katanya perdamaian benar – benar telah ditegakkan.

sumber gambar : www,google.com
Faktor sejarah yang begitu kelam dan pahit seharusnya menjadi pelajaran bagi kita semua untuk peduli dan bereaksi menciptakan perdamaian di planet bumi ini. Amerika, Afrika, Asia, dan Eropa adalah pelaku utama yang memerankan secara penting perdamaian dan juga merupakan pelaku utama yang menghancurkan perdamaian. Ini telah dibuktikan dengan begitu banyaknya jutaan jiwa yang telah melayang sia – sia hanya karena perubahan struktur pemahaman arti kedamaian. Perbudakan, penghinaan status sosial, dan pelanggaran hak asasi manusia yang telah terjadi begitu pahit pada masa lalu, mulai kembali menguap ke permukaan masyarakat pada zaman sekarang

sumber gambar : www.google.com

Apakah masih teringat di benak kita mengenai sistem pemisahan ras yang lebih dikenal dengan sistem apartheid ? 

Ya, apartheid adalah sistem pemisahan rasial yang ditegakkan melalui undang-undang oleh pemerintah Partai Nasional yang berkuasa dari tahun 1948-1994, di Afrika Selatan. Hak-hak penduduk non-putih (kulit hitam) mayoritas di Afrika Selatan  dibatasi sedangkan penduduk putih haknya diakui dan hak haknya dipertahankan dengan baik. Apartheid dikembangkan setelah Perang Dunia II oleh Afrikan Partai Nasional dan organisasi Broederbond dan dipraktekkan juga di Afrika Barat, yang diatur oleh Afrika Selatan di bawah mandat Liga Bangsa-Bangsa (dicabut tahun 1966).

sumber gambar : www.wikipedia.org

Pemisahan rasial di Afrika Selatan dimulai pada zaman kolonial penjajahan Belanda dan Inggris. Namun, apartheid sebagai kebijakan resmi diperkenalkan setelah pemilihan umum tahun 1948. Undang-undang baru penduduk diklasifikasikan menjadi empat kelompok rasial ("asli", "putih", "berwarna", dan "Asia"), dan area perumahan yang dipisahkan, kadang-kadang dengan cara dari pemindahan paksa. Sistem apartheid ini jelas membuktikan pelanggaran hak asasi manusia secara terang - terangan. Penggunaan sistem ini menyebabkan “kulit hitam” tidak mendapatkan haknya secara layak melainkan mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi.


sumber gambar : www.google.com

Sejarah kelam apartheid telah membuktikan kepada kita semua perbedaan warna kulit saja, bisa menyebabkan kerusuhan konflik yang cukup tinggi dan dengan jelas melakukan pelecehan hak asasi manusia. Sejarah gelap dan pahit ini merupakan bentuk penghapusan sistem kedamaian yang ada dalam lingkungan masyarakat. Strata sosial dipandang sangat jelas dalam sistem apartheid ini. Penggunaan strata dalam sistem ini memang sangat menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. Sehingga inilah yang menyebabkan terjadinya konflik besar yang pernah terjadi di Afrika, oleh karena pemberlakuan sistem apartheid ini dalam pemerintahannya.

Tulisan yang saya tulis hari ini (6 Mei 2012) terinspirasi setelah saya membaca salah satu berita di http://www.voaindonesia.com yang judul beritanya adalah Paduan Suara PihcintuMulticultural Suarakan Pesan Perdamaian. Ini adalah sekumpulan anak yang berasal dari pengungsian dari Afrika, Asia dan Timur Tengah akibat peperangan, konflik maupun krisis bahan pangan. Mereka merupakan kelompok anak yang tergabung dalam paduan suara yang menyuarakan perdamaian kepada semua orang. Tujuannya untuk menyuarakan perdamaian ke seluruh dunia membuat saya terharu dan penuh decak kagum.

sumber gambar : www.voaindonesia.com

  Berdasarkan berita yang di tampilkan di voa tersebut, saya dapat melihat kepada perkembangan yang terjadi belakangan ini, yang sungguh sangat memprihatinkan. Bercermin pada masa lalu, usaha yang sangat besar yang dibutuhkan dalam pengorbanan untuk memperoleh perdamaian memang sangat berat. Perang – perang besar pernah terjadi di masa lalu yang kelam itu. Coba perhatikan Perang Dunia 1 yang telah menyebabkan jutaan jiwa melayang sia – sia, kemudian dengan mirisnya berlanjut kembali dengan Perang Dunia ke 2 yang juga telah menyebabkan jutaan jiwa melayang sia – sia. Hal ini hanya disebabkan oleh faktor kepentingan semata yang angkuh dan haus akan kekuasaan serta penuh kebencian dalam memandang hak asasi orang lain dan hak asasi negara lain

sumber gambar : id.wikipedia.org

Berdasarkan jumlah korban jiwa yang disebabkan Perang Dunia 2, kita dapat melihat jutaan jiwa melayang sia – sia dan seolah – olah ini tanpa arti yang nyata. Inilah kenyataan yang telah diungkapkan sejarah kelam dunia ini pada masa kelamnya.

 Melihat perkembangan yang terjadi akhir – akhir ini seolah – olah akan membawa dunia ini ke dalam Perang Dunia ke 3. Beberapa faktor penguat pernyataan ini dapat dilihat dengan jelas mengenai perkembangan keadaan dunia saat ini. Beberapa tahun yang lalu tepatnya tahun 2003 sampai tahun 2011 negara adikuasa yaitu Amerika Serikat, dengan tegas memperlihatkan kekuatannya dan berperang dengan Irak hanya demi kepentingan semata. Selanjutnya, perang Afghanistan dengan Amerika Serikat yang bermula pada tahun 2001 dan masih terjadi hingga detik ini. Kemudian konflik yang terjadi di Timur Tengah seolah – olah menggambarkan kepentingan faktor penguasa menjadi dominan daripada faktor pembentukan kesejahteraan masyarakat. Setelah itu konflik antara Palestina dan Israel telah menjadi hal yang nyata yang masih terjadi hingga saat ini dan secara terang – terangan permasalahan ini melanggar hak asasi manusia.

sumber gambar : www.google.com


 Berdasarkan fakta – fakta yang telah terjadi saat sekarang ini,  ini telah mengumumkan kepada dunia bahwa hak untuk memperoleh kedamaian bukanlah suatu hal yang penting lagi. Sehingga kepentingan pribadi lebih dominan daripada kepentingan bersama yang telah ditunjukkan beberapa negara yang ada di dunia saat ini. Negara – negara adikuasa tak mampu memberikan perhatian lebih dan tak berkuasa untuk membantu menciptaan kedamaian di bumi ini. Persatuan bangsa – bangsa atau yang lebih dikenal dengan PBB, tunduk atas nama konflik dan tidak berani menciptakan kedamaian secara jelas dan nyata di muka bumi ini. Lihatlah peperangan dan konflik internasional yang melanggar hak asasi manusia yang masih belum bisa diselesaikan oleh PBB hingga detik ini.

Pemerintah dunia hanya meneriakkan untuk menciptakan perdamaian tanpa bertindak sedikitpun. Tindakan pemerintah dunia saat ini hanya teori – teori untuk menciptakan perdamaian tanpa disepakati dengan baik dan tanpa realisasi. Sehingga tidak ada langkah dan hasil nyata yang dihasilkan dari pemerintah dunia untuk mewujudkan kedamaian.

Seluruh negara di dunia saat sekarang ini hanya berpikiran untuk menciptakan politik yang baik, ekonomi yang stabil, serta militer yang kuat. Aspek penting yang tidak dipikirkan dengan baik oleh negara yang ada di dunia ini, adalah aspek sosial. Padahal aspek sosial merupakan aspek dasar acuan pembentukan keberhasilan suatu bangsa. Jika aspek ini tidak diperhatikan dengan baik, maka penindasan terhadap hak asasi manusia akan semakin dilegalkan.

Pada tahun 2012 tepatnya beberapa bulan yang lalu, masyarakat dunia di hebohkan dengan video yang diunggah oleh LSM Invisible Children tentang perlakuan kepada anak – anak oleh Joseph Kony. Ia adalah ketua kelompok Lord's Resistance Army (LRA), yang merupakan kelompok gerilya yang telah memaksa lebih dari 60 ribu anak – anak untuk ikut berperang dalam konflik bersenjata yang terjadi di Uganda. Dibentuk pada tahun 1987 atau 1988 dari rasa frustrasi dari kelompok etnik Acholi yang terpinggirkan di Uganda, LRA sejak itu telah menghapuskan agenda politik nasionalnya dan menggantinya dengan kampanye pembunuhan dan teror.


Berita tersebut menghebohkan dunia dengan tindakan Joseph Kony yang benar – benar di luar batas kemanusiaan. Anak – anak Uganda yang seharusnya mendapatkan pendidikan yang layak malah direkrut oleh Joseph Kony sebagai anak buahnya dan berperang sendiri di tanahnya, yaitu Uganda. Mereka dengan jelas menculik anak – anak Uganda, bagi yang laki-laki akan dipaksa untuk menjadi bagian dari tentara mereka dan membunuh orang-orang bahkan orang tua mereka sendiri. Sedangkan perempuan akan menjadi pelampiasan nafsu kebejatan  mereka bahkan dijadikan budak seumur hidup. Bagi siapa pun yang tidak menuruti perintah akan langsung dibunuh. Menelaah sejenak apa yang telah dilakukan Joseph Kony menyadarkan penduduk dunia tentang pelecehan hak asasi manusia dan peperangan melalui LSM Invisible Children. Tindakan LSM Invisible Children dengan berani menguak fakta mengerikan yang telah terjadi tanpa bantuan dari negara lain sungguh pantas dihargai. Melihat respon yang cukup tinggi dari masyarakat dunia tentang perbuatan Joseph Kony, telah menyatakan dengan tegas bahwa jutaan penduduk dunia prihatin dan peduli terhadap kasus ini.

Permasalahan Joseph Kony diungkap oleh LSM Invisible Children, bukan diungkap oleh PBB ataupun Uganda sendiri. Dalam permasalahan ini dengan sangat jelas membuktikan bahwa kepentingan faktor penguasa lebih nyata dan dominan daripada kepentingan sosial. Negara – negara di dunia ini seolah disibukkan dengan kepentingannya sendiri. Kita dapat melihat negara – negara yang ada di dunia saat ini disibukkan dengan urusannya sendiri, padahal secara jelas tantangan didepannya adalah masalah penghancuran kedamaian. Lihatlah Amerika Serikat yang masih berperang dengan negara lain seperti Afghanistan hingga detik ini, padahal secara jelas hak asasi manusia rakyat Afghanistan ditindas dan dihapuskan. Sementara sang pemimpin Amerika Serikat yaitu Barrack Obama telah menyerukan perdamaian ke seluruh dunia, sedangkan negaranya masih tidak menerima dengan baik perdamaian antar sesama masyarakat dunia.

sumber gambar : www.google.com
Melihat fenomena sekarang yang haus akan kekuasaan dan keserakahan telah membuktikan kepada seluruh umat manusia penghuni bumi ini, bahwa perdamaian merupakan hal yang tidak penting dalam kehidupan. Konflik antara Palestina dan Israel buktinya sampai detik ini masih berjalan dengan lancar. Aktivis perdamaian dibungkam, tindakannya tidak berarti bagi pemerintah dunia dan suaranya tidak di dengar oleh pemerintah dunia. Padahal, secara jelas pelanggaran hak asasi manusia telah terjadi dalam konflik Palestina dan Israel ini. Setiap tahun media – media dunia pasti melakukan peliputan akibat konflik ini. Mirisnya realita perdamaian menyebabkan aspek penting sosial di nomor akhirkan oleh pemerintah dunia saat ini. 

sumber gambar : www.google.com
Ingatkah anda dengan Rachel Aliene Corrie ?

sumber gambar : www.google.com
Ya, dia adalah aktivis kemanusian dan perdamaian yang aktif bertindak secara nyata untuk mewujudkan perdamaian kepada seluruh umat manusia penghuni bumi ini. Pada saat itu Corrie masih berusia 23 tahun ketika tentara Zionis Israel melindasnya dengan buldoser buatan perusahaan Caterpillar hingga ia tewas. Peristiwa itu terjadi pada 16 Maret 2003-beberapa hari sebelum serangan AS ke Irak-di Rafah, ketika Corrie berusaha menghalang-halangi pasukan Zionis yang ingin menghancurkan sebuah rumah milik warga Palestina. Saksi mata mengatakan, sopir buldoser Israel sengaja melindas Corrie karena padahal posisi Corrie terlihat jelas dan mengenakan jaket warna orange. Namun laporan militer Israel yang dirilis pada bulan Juni 2003 menyebutkan apa yang terjadi pada Corrie adalah “kecelakaan”. Betapa hebatnya seorang aktivis perdamaian yang aktif meneriakkan perdamaian dan bertindak nyata dalam mewujudkan perdamaian dilindas begitu saja oleh angkatan bersenjata Israel. Tidak adanya kepedulian pemerintah di dunia dalam mewujudkan perdamaian menyatakan dengan tegas bahwa perdamaian tidak dibutuhkan lagi bagi umat manusia saat ini.

Melihat sisi lain dari perbedaan, maka kita akan menemukan arti kehidupan. Perbedaan harusnya bukan menjadi faktor konflik, tetapi perbedaan harusnya menjadi faktor penguat dalam menegakkan perdamaian. Perbedaan bukan diterima untuk dijadikan bahan perbandingan, tetapi perbedaan seharusnya menjadi rahmat dari Tuhan Semesta Alam. Ratusan aktivis perdamaian yang menyurakan perdamaian dan bertindak nyata dalam mewujudkan perdamaian tidak sebanding dengan milyaran manusia yang mulai kembali merusak kedamaian. Paduan Suara Pihcintu Multicultural Suarakan Pesan Perdamaian yang saya baca di http://www.voaindonesia.com telah dengan jelas membuktikan korban peperangan kepentingan bahkan semua orang, sangat membutuhkan perdamaian. Perdamaian antar sesama, perdamaian antar agama, perdamaian antar sosial dan perdamaian antar pemerintah dunia merupakan aspek penting bagi kita semua.

Mari kita lihat masa lalu untuk bertindak menghadapi masa depan. Masa kelam telah kita lalui dan masa depan sedang kita hadapi. Akankah masa lalu yang kelam dan pahit terulang kembali ? Jawabannya ada dalam genggaman yang kita lakukan sekarang. Bertindak nyata dalam mewujudkan perdamain merupakan hal yang penting bagi kita semua. Saatnya kita menentukan masa depan dengan bertindak menciptakan perdamaian untuk menghentikan masa kelam yang lalu yang sedikit demi sedikit mulai terjadi sekarang ini.
sumber gambar : www.google.com

Penciptaan perdamaian bukan lahir sendiri, mewujudkan kedamaian berdasarkan hati nurani yang menerima arti perbedaan satu sama lain dan mengerti bahwa manusia adalah makhluk sosial yang butuh orang lain. Mewujudkan perdamaian saat sekarang ini harus berdasarkan hukum nyata dan realisasi yang nyata bukan hanya sekedar teori - teori yang tersimpan rapi di dalam kertas putih. Penentuan masa depan berada di tangan kita sekarang ini. Apakah dunia ini akan berlanjut dengan masa kelam yang pahit itu ? Apakah seluruh negara ini akan terlibat kembali dalam Perang Dunia  yang ke 3 yang mungkin terjadi dengan melihat perkembangan dunia sekarang ini ? Tangan kita sekarang dan tindakan kita sekarang harus sadar bahwa perdamaian itu tidak dilahirkan dengan sekejap mata, tetapi dilahirkan dengan tindakan yang secara jelas dan nyata. Ratusan korban jiwa  dan korban perang masih menyebar di seluruh negeri ini, tangisan yang mereka tangisi bukan karena mereka hidup sendiri, tetapi tidak adanya kepedulian masyarakat dunia yang peduli terhadap perdamaian ini.

sumber gambar : www.google.com

Peace cannot be achieved through violence, it can only be attained through understanding. 
-Ralph Waldo Emerson-



~Alven Delano~